June 20, 2024
Review Film Whiplash (2014) | Impressed!

Review Film Whiplash (2014) | Impressed!

Okay… sudah lama banget nih engga bahas film dan khususnya film-film bergenre macam Whiplash. Film ini keluar tahun 2014 yang di direct dan ditulis oleh Damien Chazelle, kalau-kalau kalian engga tau siapa beliau, Ia adalah penulis daripada 10 Cloverfield Land dan juga La La Land – film yang juga sama bagusnya. Pak Chazelle ini tentunya suka sama musik, ia bahkan ngaku bahwa dia suka dengan classical music, tapi film Whiplash yang wow ini, memukau banget sampe-sampe ini film banyak banget terima awards.

tapi… apa sih yang memikat dari film Whiplash? Fakta bahwa film ini keluar di tahun 2014 dan sekarang justru jadi hot topic and recommendation film di IMDB ketika hello sekarang kan sudah tahun 2022, ada sesuatu yang bikin kita jadi ditarik kembali ke film keluaran 2014 ini. Mungkin ada fakta dibalik sedang naik daunnya Miles Teller – aktor daripada Divergent Series (2014), Fantastic Four (2015), War Dogs (2016), dan Top Gun: Maverick (2022)? Atau mungkin karena J.K. Simmons – aktor senior yang sungguh aktingnya chef kiss, aktor daripada Juno (2007), La La Land (2016), Justice League (2021)?

Well, engga cuman karena pemainnya aja sih. Storyline dari film ini? Check. Cinematography? Check. Music? Check. Characters? Check. Check. Check.

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda yang bercita-cita untuk menjadi pemain drum terbaik dalam musik, musiknya bukan sekedar musik, tetapi sebagai pemain drum jazz terbaik. As simple as that, banyak banget hal yang bisa kita bahas, kupas dan teliti dari bagaimana film ini disajikan kepada kita. Coba kita bahas satu persatu dengan teliti ya, pertama storyline se-simple yang diatas mungkin mudah banget konsepnya untuk kita, tetapi film ini membawa kenyataan dan impian secara bersamaan. Kalau kita bayangkan, menjadi pemain drummer mungkin sebaik itu saja, mengikuti note dan boom, done. Tetapi, dalam film ini, kita melihat sebagaimana sulitnya berada ditengah-tengah atau memadukan suatu irama untuk menjadi suatu musik, khususnya dalam musik jazz.

Film ini sungguh buat saya yang suka Jazz, jadi sangat mengapreasiasi Jazz. Jazz itu sulit, banyak perpaduan dan campuran berbagai alat musik, tetapi membuat irama dan melodi yang pas, serta membawakannya dengan pas, itu sungguh sulit sekali. Inilah salah satu hal yang dapat kita lihat dari film itu, dan melihat bagaimana irama jazz terjadi dalam film ini sungguh-sungguh memukau. Hal ini dibuktikan dengan Terence Fletcher – seorang guru band jazz Shaffer Conservatory of Music yang menakutkan, kejam dan ambisius – berulang kali memaksa muridnya untuk bermain sesuai dengan irama atau keinginannya untuk menciptakan lagu jazz yang sempurna.

Namun disaat yang bersamaan, kita juga melihat bagaimana guru yang menakutkan tersebut mengajar dan menuntun muridnya bahkan memaksa mereka untuk menampilkan kemampuan terbaik mereka – dengan cara apapun. Hal inilah yang membuat kita menyadari bahwa untuk menjadi seorang yang terbaik, perjuangan dan usaha kita juga harus extra dan terlebih lagi, tidak perduli seberapa kita pikir kita sudah hebat, akan ada selalu yang dapat menggantikan kita karena mereka juga bagus atau bahkan lebih bagus dari kita.

Atas dasar itu, Andrew Neimann – pemuda 19 tahun yang ingin menjadi drummer jazz terbaik itu – belajar dan terus berlatih sekeras dan sesempurna yang ia bisa, bahkan dalam level yang sangat extreme. Ini salah satu scene atau adegan yang sangat menegangkan melihat bagaimana Neimann dengan kerasnya berusaha menjadi yang terbaik, memahami maksud daripada gurunya dalam memainkan perannya sebagai drummer dan apakah ia bisa mengimbangi keinginan gurunya itu.

Di samping menjadi pemain yang drum yang terbaik, kita juga menyadari bahwa bermain saja tidak cukup tetapi mereka (dan bahkan kita) juga harus mengerti apa yang kita mainkan. Ada beberapa adegan yang menegangkan dimana Neimann dan beberapa karakter lainnya dipertanyakan kemampuan berfikirnya atau reasoningnya, seperti ketika Neimman ditanya oleh gurunya apakah ia bermain dengan nada cepat atau lambat, ketika salah satu pemain di band Fletcher ditanya apakah ia memberikan nada sumbang dan drummer lainnya yang dimintakan pertanggungjawabannya. Semua ini disajikan kepada kita dengan suasana yang menegangkan dan sangat serius – mengingat karakter sang guru, Fletcher, yang pemarah dan kejam. Tetapi kita justru juga melihat maksud daripada kekejaman itu bahkan Neimann sendiri memahaminya sehingga ia terus berusaha untuk mengikuti alur dan keinginan sang guru.

Selain daripada menjadi drummer jazz terbaik sendiri, kita juga dihadirkan dengan permasalahan hidup Neimann yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan nyata: prioritas dan tekad yang kuat. Ayah Neimann disajikan sebagai seorang lelaki yang gagal menjadi penulis sehingga ia menjadi guru SMA sebagai karirinya, lalu kita juga disajikan dengan steriotip bahwa reputasi sekolah yang “ideal” atau dibanggakan adalah anak laki-laki yang bermain sepak bola atau bermain sport – bukan musik. Neimann melihat keadaan sekitarnya yang merendahkan dirinya sebagai drummer bahkan kenyataan bahwa menjadi drummer bukanlah sesuatu yang harus dikejar dengan tekad kuat. Ia direndahkan dan bahkan didorong untuk segera mengganti karir.

Dukungan keluarga yang tidak di dapat oleh Neimann ini justru membuatnya semakin terfokus untuk menjadi drummer yang terbaik sampai bahkan, dan ini juga yang menjadi salah satu adegan terkenal dari Whiplash, Neimann rela untuk tidak mencari kebahagiaan duniawi lainnya dengan memutuskan untuk berhenti bertemu / berkencan dengan cewek yang sangat ia sukai. Masih ada banyak lagi yang sangat menarik dari film ini, apalagi endingnya. Endingnya tidak boleh di-spoiler sama sekali, bahkan kisah apa yang terjadi pada Neimann, kalian juga harus nonton sendiri untuk bisa ikut dalam ketegangan Whiplash.

Secara keseluruhan, Whiplash memiliki cerita, alur, dan penulisan naskah yang sangat menarik. Bagaimana film ini di ambil juga menarik sesungguhnya, karena kebanyakan adegan dalam film di ambil dalam suasana ruangan yang gelap dan remang, memberikan kesan yang dalam dan suram, namun cahaya dan musik yang dimainkan membawa semangat dan membuat aliran darah kita rasanya mengalir dengan cepat melihat bagaimana para karakter memainkan peran mereka.

Nah, kalian sendiri gimana? Mau nonton film ini gak?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to Top